Sepakbola tanah air sedang bergejolak setelah terlepas dari sanksi FIFA untuk PSSI, kompetisi mulai bergulir normal kembali, namun sayangnya bukan saja menorehkan prestasi, kompetisi sepakbola di Indonesia juga sedikit cacat dengan berbagai kontroversi.
Nampaknya prestasi sepakbola Indonesia masih diimbangi dengan kontrovesrsi-kontroversi yang semakin menjadi-jadi, salah satunya kisruh yang hampir selalu menghantui setiap berjalannya kompetisi, kisruh terjadi bukan saja yang hanya melibatkan para pemain di lapangan, kisruh antar suporter, official klub dengan wasit, bahkan juga kisruh terkadang menimpa organisasi sepakbola tertinggi Indonesia PSSI.
Hal itu lah yang menjadi imbas geramnya publik terhadap carut-marutnya sistem kompetisi yang bergulir di negeri ini. Baru-baru ini kembali santer diberitakan tentang kisruh yang terjadi antara Official Klub PSPS Pekanbaru dengan sang pengadil jalannya pertandingan pada laga perebutan tempat ke semifinal Liga 2 Indonesia.
Dikutip dari sport.detik.com (22/11/2017) PSPS Pekanbaru berlaga kontra PSIS Semarang di babak 8 besar Liga 2, Selasa (21/11/2017). Laga di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, itu berakhir imbang 1-1. Hasil tersebut meloloskan PSIS ke babak semifinal Liga 2 sebagai runner-up Grup Y. Sementara itu, PSPS tersisih karena cuma menempati peringkat ketiga. PSIS dan PSPS sebenarnya sama-sama mengumpulkan empat poin dari tiga laga. Namun, PSIS lolos karena punya selisih gol yang lebih baik.
Dalam laga tersebut publik sepakbola Indonesia kembali harus menerima kekecawaan, lantaran pertandingan diwarnai dengan kisruh yang melibatkan Official Tim PSPS Pekanbaru dengan wasit yang memimpin laga tersebut.
Dikutip dari ngopibareng.id (22/11/2017) PSPS mengkritik kinerja wasit dalam pertandingan yang berakhir 1-1 itu. Mereka merasa tidak puas dengan kepemimpinan wasit, karena dinilai banyak merugikan tim berjuluk berjuluk Askar Bertuah. Puncaknya, wasit tidak meniup peluit saat pemain PSIS menjegal pilar PSPS di kotak penalti di masa injurty time babak kedua. Justru saat pemain PSPS melakukan protes, wasit lantas berlari sambil meniup peluit panjang. Asisten manajer PSPS, Alsitra mempertanyakan kinerja wasit tersebut. Bahkan ia juga heran saat pengadil memberhentikan pertandingan, padahal waktu masih tersisa.
"Kami akan kirim protes resmi. perlu diingat, waktu belum habis kenapa wasit lari keluar dan meniupkan peluit panjang. Di kotak ada pelanggaran, dia lari keluar. Coba dipikir ada apa? Dibayar berapa dia?" potesnya.
Yang lebih parahnya lagi buntut dari kisruh pada pertandingan ini adalah kubu PSPS Pekanbaru mengancam akan pindah ke Liga Singapura musim depan, "Posisi kami di Riau dekat dengan Malaysia dan Singapura, kami akan pindah ke Liga Singapura, daripada main di Indonesia wasitnya tetap seperti ini, " ancamnya.
Seperti yang kita ketahui PSPS Pekanbaru pada musim 2009-2010 pernah menjajal kasta tertinggi kompetisi sepakbola nasional yang saat itu masih bernama Indonesian Super League.
Lalu apakah ancaman untuk pindah ke Liga Malaysia tersebut akan benar-benar terjadi, kita do'akan saja agar hal tersebut hanya sekedar ancaman saja ya
Sumber : uc News

