Memiliki tim nasional yang kuat adalah impian dari semua negara. Bukan cuma di level senior, harapan juga jatuh ke timnas kelompok umur (U-23, U-19, dan U-16) agar mereka berprestasi meski seharusnya mereka hanya sekedar disiapkan sebagai pemain masa depan Indonesia yang nantinya akan mengisi timnas senior.
Tahun lalu, tak lama setelah Edy Rahmayadi dilantik menjadi Ketum PSSI yang baru, sejumlah aturan dibuat untuk mengarahkan Indonesia menuju timnas yang kuat. Salah satu aturan yang diapresiasi adalah keharusan setiap klub yang berkompetisi di Liga 1 menurunkan minimal tiga pemain di bawah usia 23 tahun sebagai starter selama 45 menit.
Sejak awal, keputusan ini memang kurang populer di kalangan klub. Namun PSSI seperti tutup telinga dan meneruskan kebijakan itu. Mereka tahu harus ada langkah revolusioner untuk mengembalikan kejayaan sepak bola Indonesia pascasanksi FIFA dan ini harus sangat diapresiasi.
Regulasi ini memberi angin segar bagi pembinaan usia muda di sepak bola Tanah Air. Terlebih, dahulu pencarian bibit sepak bola di kelompok umur kerap diwarnai dengan selentingan kabar burung mengenai pemalsuan umur hingga jargon pemain titipan, meski hal itu kemudian menguap dan tidak pernah terbukti kebenarannya.
Sayangnya, hanya beberapa bulan kemudian tepatnya di tengah musim kompetisi, PSSI menangguhkan regulasi ini setidaknya hingga 30 Agustus alias setelah SEA Games. Mereka beralasan banyak pemain U-23 dari sebuah klub yang dipanggil timnas, tapi alasan ini kemudian memicu kekesalan dari klub-klub lainnya.
"Regulasinya kan sudah disahkan sejak awal. Ada pengaturan jika pemainnya dipanggil timnas. Pasal 31 mengatur jelas tentang pemain dan secara spesifik di ayat 4 jelas mengatur tentang pemain jika dipanggil timnas,” keluh CEO Madura United, Achsanul Qosasi dikutip dari FourFourTwo.com (3/7/2017).
Situasi makin runyam ketika selepas SEA Games pun, PSSI tidak juga mencabut penangguhan aturan tersebut. PSSI melalui surat bernomor 2312/UDN/12393/VII-2017 yang ditujukan kepada Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru, Glen Sugita, menyatakan semua klub Liga 1 diperbolehkan untuk memainkan semua pemain yang telah terdaftar sebelumnya.
Tidak sedikit klub yang protes. Komitmen PSSI untuk menciptakan generasi baru pemain muda Indonesia patut dipertanyakan. Apalagi, perubahan regulasi ini dilakukan di tengah-tengah kompetisi sehingga patut dicurigai adanya kepentingan untuk menyelamatkan tim tertentu dibanding menyelamatkan nasib sepak bola Indonesia dalam jangka panjang.
Obok-obok timnas
Menghancurkan sistem pembinaan usia muda di liga bukan satu-satunya hal yang dilakukan oleh PSSI. Baru-baru ini, mereka juga menunjukkan sikap labilnya dengan mengumumkan pemecatan pelatih timnas U-19 Indra Sjafri.
Awalnya, isu tersebut dilontarkan oleh anggota Komite Eksekutif PSSI, pekan lalu. Namun kemarin, Ketum Edy Rahmayadi seperti menguatkan argumen tersebut dengan menyebut nasib Inda Sjafri 'sudah berada di ujung kaki'.
Sikap ini bertentangan dengan semangat pembinaan usia muda yang diisyaratkan oleh Pangkostrad tersebut pada Januari 2017 lalu ketika menunjuk Indra sebagai pelatih timnas U-19, bersamaan juga dengan pengangkatan Luis Milla sebagai pelatih timnas U-23 dan senior serta Fakhri Husaini sebagai pelatih timnas U-16. Saat itu, Edy mendukung seluruh program timnas yang disusun para pelatihnya, termasuk metode mereka dalam menjaring pemain.
Tidak seperti Milla yang punya wadah kompetisi sebagai kolam melihat calon pemainnya, Indra dan Fakhri harus lebih banyak blusukan ke berbagai daerah untuk mencari pemainnya sendiri. Maklum, saat ini kompetisi usia muda yang ada masih lebih banyak diselenggarakan oleh pihak swasta yang tidak berada di bawah supervisi PSSI.
Tidak seperti timnas senior atau U-23, pemain timnas U-19 dan U-16 kebanyakan belum hanya bermain di level SSB atau PPLP sehingga melakukan pemusatan latihan jangka panjang adalah salah satu solusi agar mereka bisa tampil padu sebagai tim. Namun, proses ini pun tidak serta-merta menghasilkan tim yang solid. Butuh waktu untuk mematangkan permainan mereka dari level SSB ke level tim nasional.
Dan hal ini yang lagi-lagi tampaknya tak dipahami oleh PSSI.
China yang tengah berambisi tampil di Piala Dunia kini tengah mewajibkan klubnya untuk menurunkan pemain U-23 di setiap laga meski klub-klub di sana punya uang tak berseri untuk memborong pemain-pemain kelas dunia. Mereka tidak takut dengan ancaman 'liga yang kurang kompetitif' karena aturan itu memang dibuat untuk memunculkan pemain-pemain yang akan mengharumkan nama negara di pentas dunia, bukan lagi level domestik.
Atau lihatlah lebih jauh ke Jerman. Negara yang sejak dulu terkenal dengan kesuksesan pembinaan usia dininya, ditakuti setiap ikut Piala Dunia, tetapi baru pada 2014 kembali menjadi tim terbaik sejagad setelah 1990 silam.
Pembinaan usia dini butuh sistem yang baik, waktu yang panjang, serta kesabaran dan keyakinan tanpa batas dari semua pihak.
Sayangnya, sejauh ini PSSI belum memperlihatkan hal itu.
Sumber : Uc News
Tahun lalu, tak lama setelah Edy Rahmayadi dilantik menjadi Ketum PSSI yang baru, sejumlah aturan dibuat untuk mengarahkan Indonesia menuju timnas yang kuat. Salah satu aturan yang diapresiasi adalah keharusan setiap klub yang berkompetisi di Liga 1 menurunkan minimal tiga pemain di bawah usia 23 tahun sebagai starter selama 45 menit.
Sejak awal, keputusan ini memang kurang populer di kalangan klub. Namun PSSI seperti tutup telinga dan meneruskan kebijakan itu. Mereka tahu harus ada langkah revolusioner untuk mengembalikan kejayaan sepak bola Indonesia pascasanksi FIFA dan ini harus sangat diapresiasi.
Regulasi ini memberi angin segar bagi pembinaan usia muda di sepak bola Tanah Air. Terlebih, dahulu pencarian bibit sepak bola di kelompok umur kerap diwarnai dengan selentingan kabar burung mengenai pemalsuan umur hingga jargon pemain titipan, meski hal itu kemudian menguap dan tidak pernah terbukti kebenarannya.
Sayangnya, hanya beberapa bulan kemudian tepatnya di tengah musim kompetisi, PSSI menangguhkan regulasi ini setidaknya hingga 30 Agustus alias setelah SEA Games. Mereka beralasan banyak pemain U-23 dari sebuah klub yang dipanggil timnas, tapi alasan ini kemudian memicu kekesalan dari klub-klub lainnya.
"Regulasinya kan sudah disahkan sejak awal. Ada pengaturan jika pemainnya dipanggil timnas. Pasal 31 mengatur jelas tentang pemain dan secara spesifik di ayat 4 jelas mengatur tentang pemain jika dipanggil timnas,” keluh CEO Madura United, Achsanul Qosasi dikutip dari FourFourTwo.com (3/7/2017).
Situasi makin runyam ketika selepas SEA Games pun, PSSI tidak juga mencabut penangguhan aturan tersebut. PSSI melalui surat bernomor 2312/UDN/12393/VII-2017 yang ditujukan kepada Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru, Glen Sugita, menyatakan semua klub Liga 1 diperbolehkan untuk memainkan semua pemain yang telah terdaftar sebelumnya.
Tidak sedikit klub yang protes. Komitmen PSSI untuk menciptakan generasi baru pemain muda Indonesia patut dipertanyakan. Apalagi, perubahan regulasi ini dilakukan di tengah-tengah kompetisi sehingga patut dicurigai adanya kepentingan untuk menyelamatkan tim tertentu dibanding menyelamatkan nasib sepak bola Indonesia dalam jangka panjang.
Obok-obok timnas
Menghancurkan sistem pembinaan usia muda di liga bukan satu-satunya hal yang dilakukan oleh PSSI. Baru-baru ini, mereka juga menunjukkan sikap labilnya dengan mengumumkan pemecatan pelatih timnas U-19 Indra Sjafri.
Awalnya, isu tersebut dilontarkan oleh anggota Komite Eksekutif PSSI, pekan lalu. Namun kemarin, Ketum Edy Rahmayadi seperti menguatkan argumen tersebut dengan menyebut nasib Inda Sjafri 'sudah berada di ujung kaki'.
Sikap ini bertentangan dengan semangat pembinaan usia muda yang diisyaratkan oleh Pangkostrad tersebut pada Januari 2017 lalu ketika menunjuk Indra sebagai pelatih timnas U-19, bersamaan juga dengan pengangkatan Luis Milla sebagai pelatih timnas U-23 dan senior serta Fakhri Husaini sebagai pelatih timnas U-16. Saat itu, Edy mendukung seluruh program timnas yang disusun para pelatihnya, termasuk metode mereka dalam menjaring pemain.
Tidak seperti Milla yang punya wadah kompetisi sebagai kolam melihat calon pemainnya, Indra dan Fakhri harus lebih banyak blusukan ke berbagai daerah untuk mencari pemainnya sendiri. Maklum, saat ini kompetisi usia muda yang ada masih lebih banyak diselenggarakan oleh pihak swasta yang tidak berada di bawah supervisi PSSI.
Tidak seperti timnas senior atau U-23, pemain timnas U-19 dan U-16 kebanyakan belum hanya bermain di level SSB atau PPLP sehingga melakukan pemusatan latihan jangka panjang adalah salah satu solusi agar mereka bisa tampil padu sebagai tim. Namun, proses ini pun tidak serta-merta menghasilkan tim yang solid. Butuh waktu untuk mematangkan permainan mereka dari level SSB ke level tim nasional.
Dan hal ini yang lagi-lagi tampaknya tak dipahami oleh PSSI.
China yang tengah berambisi tampil di Piala Dunia kini tengah mewajibkan klubnya untuk menurunkan pemain U-23 di setiap laga meski klub-klub di sana punya uang tak berseri untuk memborong pemain-pemain kelas dunia. Mereka tidak takut dengan ancaman 'liga yang kurang kompetitif' karena aturan itu memang dibuat untuk memunculkan pemain-pemain yang akan mengharumkan nama negara di pentas dunia, bukan lagi level domestik.
Atau lihatlah lebih jauh ke Jerman. Negara yang sejak dulu terkenal dengan kesuksesan pembinaan usia dininya, ditakuti setiap ikut Piala Dunia, tetapi baru pada 2014 kembali menjadi tim terbaik sejagad setelah 1990 silam.
Pembinaan usia dini butuh sistem yang baik, waktu yang panjang, serta kesabaran dan keyakinan tanpa batas dari semua pihak.
Sayangnya, sejauh ini PSSI belum memperlihatkan hal itu.
Sumber : Uc News

