Saat ini, Egy Maulana Vikri tidak ditampik lagi menyandang predikat sebagai wonderkid di tim nasional Indonesia. Penampilannya yang mampu mengangkat permainan timnas Indonesia U-19 menjadi buktinya.
Sebelum Egy, ada juga nama Evan Dimas Darmono yang mampu mempersembahkan trofi juara AFF U-19 pada 2013. Dan jika ditarik lebih ke belakang, Indonesia pun memiliki sosok Andik Vermansah yang mendapat kehormatan dijuluki pemain masa depan skuat Garuda.
Namun sebelum Egy, Evan, dan Andik, ada wonderkid lain yang dibanggakan oleh negeri ini. Dialah Boaz Theofilius Erwin Solossa alias Boaz Solossa.
Loyalitas adalah satu kata yang menggambarkan kiprah Boaz bersama tim nasional Indonesia. Tak kurang dari 13 tahun dan 46 caps telah dilalui pemain kebanggaan tanah Papua itu bersama skuat 'Merah-Putih'.
Dirilis dari goal.com (12/10/2013), Boaz menjalani debut bersama tim nasional senior tepat sembilan tahun silam dalam usia 18 tahun 210 hari. Namun, debut pemain yang kerap disapa Boci itu bersama timnas Garuda tidaklah berakhir dengan kegembiraan. Bertanding menghadapi Arab Saudi di laga kualifikasi Piala Dunia 2006, Boaz gagal mengantarkan Indonesia meraih poin setelah takluk dengan skor 1-3.
Kekecewaan jelas tergurat di wajahnya. Tetapi itu tidak lantas mematikan hasratnya untuk mempersembahkan penampilan yang lebih baik lagi bagi timnas. Tepatnya satu bulan kemudian di pertandingan kualifikasi lanjutan menghadapi Turkmenistan, Boaz mampu tampil gemilang dengan menciptakan dua assist untuk membantu Indonesia menang 3-1.
Gol pertama Boaz untuk 'Merah-Putih' tercipta di ajang Piala AFF 2004, tepatnya pada 9 Desember, saat menggunduli Laos 6-0. Saat itu usia Boaz 18 tahun 268 hari.
Meskipun demikian, cedera patah kaki yang dideritanya pada 2007 dalam laga persahabatan melawan Hong Kong di SUGBK membuat karier Boaz bersama timnas nyaris berakhir. Bukan hanya karena tingkat keparahan cedera tersebut, namun juga sikap PSSI yang dinilai Boaz tidak mau mengurus sakitnya tersebut hingga sembuh.
Berdasarkan informasi yang dipublikasikan oleh indosport.com (5/11/2016), justru klubnya Persipura yang menanggung biaya pengobatannya hingga pulih total. Hal ini membuat Boaz kemudian ngambek dengan PSSI dan sempat memutuskan berpisah dengan timnas.
Untungnya, keputusan itu hanya emosi sesaat. Ia bahkan kembali memperkuat timnas sebagai kapten di Piala AFF 2016.
Sebelum Egy, ada juga nama Evan Dimas Darmono yang mampu mempersembahkan trofi juara AFF U-19 pada 2013. Dan jika ditarik lebih ke belakang, Indonesia pun memiliki sosok Andik Vermansah yang mendapat kehormatan dijuluki pemain masa depan skuat Garuda.
Namun sebelum Egy, Evan, dan Andik, ada wonderkid lain yang dibanggakan oleh negeri ini. Dialah Boaz Theofilius Erwin Solossa alias Boaz Solossa.
Loyalitas adalah satu kata yang menggambarkan kiprah Boaz bersama tim nasional Indonesia. Tak kurang dari 13 tahun dan 46 caps telah dilalui pemain kebanggaan tanah Papua itu bersama skuat 'Merah-Putih'.
Dirilis dari goal.com (12/10/2013), Boaz menjalani debut bersama tim nasional senior tepat sembilan tahun silam dalam usia 18 tahun 210 hari. Namun, debut pemain yang kerap disapa Boci itu bersama timnas Garuda tidaklah berakhir dengan kegembiraan. Bertanding menghadapi Arab Saudi di laga kualifikasi Piala Dunia 2006, Boaz gagal mengantarkan Indonesia meraih poin setelah takluk dengan skor 1-3.
Kekecewaan jelas tergurat di wajahnya. Tetapi itu tidak lantas mematikan hasratnya untuk mempersembahkan penampilan yang lebih baik lagi bagi timnas. Tepatnya satu bulan kemudian di pertandingan kualifikasi lanjutan menghadapi Turkmenistan, Boaz mampu tampil gemilang dengan menciptakan dua assist untuk membantu Indonesia menang 3-1.
Gol pertama Boaz untuk 'Merah-Putih' tercipta di ajang Piala AFF 2004, tepatnya pada 9 Desember, saat menggunduli Laos 6-0. Saat itu usia Boaz 18 tahun 268 hari.
Meskipun demikian, cedera patah kaki yang dideritanya pada 2007 dalam laga persahabatan melawan Hong Kong di SUGBK membuat karier Boaz bersama timnas nyaris berakhir. Bukan hanya karena tingkat keparahan cedera tersebut, namun juga sikap PSSI yang dinilai Boaz tidak mau mengurus sakitnya tersebut hingga sembuh.
Berdasarkan informasi yang dipublikasikan oleh indosport.com (5/11/2016), justru klubnya Persipura yang menanggung biaya pengobatannya hingga pulih total. Hal ini membuat Boaz kemudian ngambek dengan PSSI dan sempat memutuskan berpisah dengan timnas.
Untungnya, keputusan itu hanya emosi sesaat. Ia bahkan kembali memperkuat timnas sebagai kapten di Piala AFF 2016.
Tahun ini, di usianya yang sudah menginjak kepala tiga, adik dari Ortizan Solossa itu mengungkapkan keinginannya untuk pensiun dari timnas. Indikasi itu pun membesar setelah pelatih Luis Milla tidak menyertakan namanya pada laga uji coba melawan Kamboja, Oktober lalu.
Namun, lagi-lagi, Boaz tetap datang ketika negara kembali memanggilnya untuk memperkuat timnas di laga uji coba melawan Suriah U-23 dan Guyana. Kecepatannya dan sentuhannya memang sudah tidak semengkilap kiprahnya saat melakoni debut, 13 tahun lalu, namun semangat membela lambang Garuda di dada jelas masih terlihat dalam setiap gerakannya.
Saat Boaz betul-betul berkata 'selesai' untuk timnas, siapa yang akan menggantikan kepemimpinannya?
Sumber Uc News
Namun, lagi-lagi, Boaz tetap datang ketika negara kembali memanggilnya untuk memperkuat timnas di laga uji coba melawan Suriah U-23 dan Guyana. Kecepatannya dan sentuhannya memang sudah tidak semengkilap kiprahnya saat melakoni debut, 13 tahun lalu, namun semangat membela lambang Garuda di dada jelas masih terlihat dalam setiap gerakannya.
Saat Boaz betul-betul berkata 'selesai' untuk timnas, siapa yang akan menggantikan kepemimpinannya?
Sumber Uc News


